Powered By Blogger
Powered By Blogger

Minggu, 01 Maret 2015

Sepucuk Kata dari Si Sulung

Ada kalanya Aku dan Kau merasa jauh
Jauh sekali karna dipisahkan jarak dan waktu
Bahkan ketika hati terusik tuk ketemu
Seolah mendekap rindu dalam bayang semu dan
Adakalanya Aku dan Kau merasa dekat
Dekat sekali...bahkan lebih dekat dari apa yang kita rasakan
Apa yang kita harapkan
Dalam setiap bentang sepanjang kenangan saat ini, saat itu, dan saat yang akan datang.

Wahai adikku
Memang Aku belum mengenalmu secara mendalam
Bahkan kornea mataku yang katanya tembus pandang
Tak bisa melihat dinding-dinding tebal yang tegak menghadang.

Bahkan ketika Kau dan Aku jadi penasaran
Timbul gelora membara di gelanggang "Sejuta Pertanyaan"
Apakah ini suatu kesungguhan
Ataukah sekedar lelucon picisan?
Atau sekedar permainan tipuan yang penuh ketidakmanfaatan?
Karna sudah tak percaya dengan namanya persaudaraan

Tapi adikku,
Percayalah
Bahwa di tengah ketidakmungkinan masih ada celah berkas sinar harapan
Dibalik sejuta keniscayaan, masih ada uluran tangan kesungguhan
Dibalik semua kemustahilan, masih ada niat ketulusan
Atau mungkinkah ini sebagai budaya metropolitan?

Aku sangat maklum dan mafhum akan hal ini
Karna memang seolah hal mustahil di abad terkini
Di mana egoisme dan saling ketidakpercayaan tlah menjadi ciri
b
Bahkan menjelma menjadi simbol jatidiri.

Tetapi adikku,
Meski Kau jauh ntah dimana
Meski Kau tak tampak seperti siapa
Juga ketika Kau bertanya tentang Aku
Di sanalah sebenarnya Kau dan Aku menjadi satu
Satu dalam ikatan bathin yang tak kan pernah pudar
Walau ombak samudera menggelegar
Bahkan langit kelam dihujani beribu halilintar
Aku tak kan goyah dan tak kan gentar
Karna ku yakin bahwa Kau adalah adikku yang baik
Bahkan mungkin lebih dari itu,
Jika ada kosa kata lain yang utuh.

Wahai adikku,
Coba kau rasakan ketika kau bangun membuka mata
Di sudut pelupukmu ku hadir tuk menjelma
Ketika kau sedang pergi di sini lah ku slalu menanti
Bahkan ketika kau sedang belajar atau bekerja
Di sinilah ku slalu mendukung dengan do'a
Bahkan ketika kau larut dengan kerjaan
Di sinilah aku selalu menebar benih harapan
Agar kau bertemu dengan bingkai keberhasilan
Semua karena "aku Sayang Padamu."

Disinilah, di lubuk hati ini ada asa yang menghujam begitu dalam
Di langit jingga itulah kutebar sayang sepanjang kenangan bahkan di seluruh waktu untukmu untukku dan untuk semuanya
Mari kita tebar kasih di seluruh jagat raya
Agar anak cucu kita bisa menuai kasih sepanjang masa.

Inilah yang bisa kulakukan untukmu adikku.

(Julianda Rosyadi, 24 Oktober 2010)

Tanpa sengaja, menemukan ini di inbox fb saya. Sekitar 4 tahun yang lalu, sudah cukup lama. Bahkan saya lupa pernah menerimanya, membacanya.
Hanya rangkaian kata yang mampu membentuk kristal air di sudut mata saat membacanya (lagi).

Terimakasih. Selama ini, sepertinya kau memang berperan baik, sebagai pengganti Ayah. Menebus kepergian Ayah dengan baik. Memberi kasih sayang dari seorang ayah yang memang belum lama kurasakan. Kau pasti tahu, sungguh sangat tahu, saat itu usiaku belum genap 5 tahun.

Terimakasih sudah menjadi seorang kakak yang baik. Terimakasih sudah memberikan saran-saran baik, pemahaman baik. Sungguh terimakasih.

Jumat, 27 Februari 2015

Fall For You

The best thing 'bout tonight is that we're not fighting
Could it be that we have been this way before?
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core

But hold your breath
Because tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find

This is not what I intended
I alway swore to you I'd never fall apart
You always thought that I was stronger
I may have failed, but I have loved you from the start

But hold your breath
Because tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
It's impossible to find

Ao breathe in so deep
Breathe me in, I'm yours to keep
And hold on to your words 'cause talk is cheap
And remember me tonight when you're asleep

But hold your breath
Because tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find

Tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find
(Secondhand Serenade - Fall For You)

Gadis itu sesekali ikut bersenandung bersama sang vokalis. Dia memang selalu mendengarkan lagu ini, terlebih lagi jika suasana hatinya sedang buruk. Lagu kenangan, memang. Bersama seseorang.

Seperti malam ini. Sepertinya malam ini suasana hatinya sedang buruk. Beberapa kali mengulang lagu ini. Habis-play lagi-habis-play lagi. Bukan karena playlist music di smartphone miliknya hanya ada lagu itu. Tapi lebih karena hanya lagu itu yang bisa membuatnya sempurna mengenang seseorang-nya.

"Halo, Assalamualaikum"

Gadis itu memulai percakapan dengan riangnya. Baginya ini selalu menyenangkan. Hanya dengan tak mau menurut disuruh tidur oleh seseorangnya, seseorang di sana harus menelponnya. Membujuk. Dan gadis itu tersenyum lebar. Senyum kemenangan.
Malam itu, seperti sebelumnya. Gadis itu selalu manja dengan seseorangnya. Yang selalu membujuknya agar tidur, besok harus bangun pagi. Setelah puas, dia akan tersenyum. Bilang terimakasih. Lantas tidur. Kadang malah tertidur saat telepon dari seseorangnya belum dimatikan.

Tetapi malam itu, gadis itu tersipu malu. Wajahnya memerah.
"The best thing 'bout tonight is that we're not fighting
Could it be that we have been this way before?
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core"

Jeda sebentar.
"Ayo lanjutin" pinta gadis itu dengan manjanya. Dia senang mendengar seseorangnya bernyanyi, walaupun dia sama sekali tak tahu apa judul lagu itu. Malam itu, seseorangnya mengenalkan lagu yang indah. Sempurna menjadi lagu kebersamaan mereka.

"But hold your breath
Because tonight will be the night
That I will fall for you over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find"

Pipinya semakin memerah. Mengerti apa maksud lagu tersebut. Hening. Seseorangnya menyanyikan lagu itu hingga bait terakhir.

Juga malam-malam sesudahnya. Lagu itu sempurna menjadi bagian dari kebersamaan mereka.

Malam ini hatinya sedang berkabut. Tidak tebal memang, tp cukup membuat sakit. Seseorang-nya. Ada rasa kurang nyaman dirasakannya saat ini. Entah kenapa, diapun juga tidak mengetahui pasti. Hanya ada sedikit masalah dengan seseorang-nya. Pertengkaran kecil. Tapi sempurna membuat malam-malamnya terasa hambar, terasa panjang.

Di antara untaian lirik lagu tersebut, gadis itu berbisik pelan.
Aku mencintaimu, sungguh. Aku menyayangimu, tanpa perduli kau masih menyayangiku atau tidak. Aku merindukanmu, meski aku tak tau apa kau juga merindukanku atau tidak. Aku sungguh minta maaf, sungguh minta maaf. Entah seberapa banyak salahku padamu, entah berapa kali aku menyakitimu. Aku sungguh minta maaf.

Jumat, 13 Februari 2015

Aku [harus] Kembali Berjuang

Sungguh, melewati jalanan ini benar-benar mengingatkanku tentang bagaimana perjuanganku beberapa bulan yang lalu.
Perjuangan yang awalnya memang berakhir menyenangkan. Ya, menyenangkan. Setidaknya untuk beberapa saat. Namun semuanya berakhir di akhir november yang lalu.
Sedih. Tapi aku harus bagaimana?

Aku harus kembali berjuang.

Kamis, 05 Februari 2015

Raffi dan Iren

  "Sepertinya aku harus pergi." Perempuan itu pamit kepada empat orang temannya yang berada di dalam kamar itu. Sebelumnya dia sudah mendapat telpon dari seseorang.
  Dia pun keluar dari kamar itu dan segera mengambil dan mengendarai motornya. Keluar dari rumah salah satu temannya tersebut.
  "Ke mana dia?" benak perempuan tersebut--yg diketahui bernama Iren. Dia mengambil telpon genggamnya, dan mengetikkan "km di mana?"
  Tak lama kemudian Iren melihat seseorang di belakangnya. "Hai, nunggu di mana? Kok aku ga liat?" ucap Iren membuka percakapan. "Di depan kok, kamu aja ga liat, langsung jalan gitu." Jawab sang pria yang kemudian diketahui bernama Raffi. "Oh ya?" Iren sedikit kaget dan merasa bersalah.
"Oh iya, kok kamu naik motor sendiri? Katanya mau bareng aja?"

"Hah? Tadi malem kamu ga ngeiyain sih, aku pikir aku gamau, makanya aku bawa motor sendiri."

"Duh, yaudah deh."

"Hehe, maaf ya."

  Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah pasar modern di kota tersebut. Sesampainya di pasar modern tersebut, mereka langsung naik ke lantai 2. Perlu diketahui, pasar modern ini sebelumnya dinamakan plaza. Entah sejak kapan berubah menjadi pasar modern. Pasar modern tersebut memiliki 3 lantai dengan lantai pertama dan kedua berisi toko-toko atau tempat belanja berbagai macam baju, boneka, makanan, sampai jam tangan. Sedangkan lantai ketiga berisi mainan-mainan sejenis "mini timezone", mungkin.
  "Katanya mau beli snapback? Jadi?" Iren bertanya pada Raffi.

"Iya sih. Tapi kita main dulu aja ya?"

"Beli dulu aja gpp, kan cuma lantai dua? Main belakangan aja, gpp kok."

"Yaudah deh"

  Raffi pun membeli snapback yang dia mau. Snapback berwarna hitam dan bertuliskan nama dari salah satu band yang disukainya pun menjadi miliknya.
  "Nah udah dibelikan? Sekarang kita main yuk" Raffi berkata dengan penuh perhatian terhadap kekasihnya. Oh, iya benar. Mereka adalah sepasang kekasih yang sebelumnya bersama-sama kuliah di satu kota yang sama. Namun, dua bulan terakhir, mereka terpaksa menjalani Long Distance Relationship karena Iren sudah dua bulan sakit-sakitan dan harus pulang.

"Ayuk." Kata Iren antusias dilengkapi matanya yang berbinar. Mata itu, ciri khas Iren yang benar-benar membuat Raffi jatuh cinta.

  "Kok sepi?" Kata Iren sedikit kecewa begitu sampai di lantai tiga. Mata berbinarnya memudar. Ini bukan weekend ataupum hari libur, jadi wajar kalau tempat bermain jadi sesepi ini.

"Yaudah gpp, main aja yuk. Aku beli koinnya dulu ya" Raffi berujar penuh kasih sayang.

Raffi kembali menemui Iren dengan membawa cukup banyak koin sebagai syarat permainan.

"Mau main apa, yang?" Tanya Raffi.

"Basket yuk. Biar bisa berdua." Kata Iren berseru, kembali antusias.

Melempar bola. Masuk. Gagal. Menyenangkan sekali melihat mereka tertawa bahagia. Terlebih bagi Raffi, sungguh menyenangkan melihat kekasihnya yang dua bulan lalu terbaring lemah, hari ini bisa kembali tertawa bahagia bersamanya.

  Raffi sudah pulang ke kota mereka sejak satu minggu yang lalu. Namun karena disibukkan oleh acara resepsi perkawinan kakaknya, dari persiapan hingga acara selesai Raffi masih disibukkan oleh berbagai kegiatan yang memaksanya menahan rindu lebih lama untuk menemui kekasihnya.
  Pun begitu juga dengan Iren. Harapannya bisa berlama-lama bersama sang kekasih nyatanya harus dikubur dalam-dalam. Iren dipaksa mengerti akan kesibukkan Raffi. Toh Iren tak bisa memaksakan kehendaknya sendiri.
  Jadilah hari itu, saat Raffi menyempatkan waktunya untuk mengajak Iren yang sebenarnya baru beberapa minggu terakhir bisa dikatakan "cukup sehat" Iren benar-benar ingin menhghabiskan waktu bersama Raffi dan menjadikan waktu itu sebagai "quality time" bersama Raffi. Apalagi sejak diputuskan bahwa Iren akan istirahat untuk kuliah tahun ini, itu berarti mereka akan kembali menjalani Long Distance Relationship. Mereka benar-benar ingin memanfaatkan waktu yang ada.
  Puas bermain basket, mereka kembali mendatangi berbagai permainan.
"Mau apa lagi?" Tanya Raffi.

"Terserah" jawab Iren masih dengan matanya yang berbinar.

"Mau nyoba main gitar? Atau drum?"

"Aku kan belum bisa." jawab Iren dengan muka sok sedih yang justru membuat Raffi tersenyum dan mengacak-acak jilbab pink yang dipakai Iren. "Kamu aja yang main." Lanjutn Iren.

"Yaudah yuk."

Raffi pun mengambil posisi layaknya seorang drummer. Padahal biasanya Raffi lebih sering megang gitar ataupun keyboard. Lagu dimainkan, Raffi mulai bermain, sedangkan Iren setia berdiri di sampingnya memberinya semangat.
  Berbagai permainan mereka coba. Puas bermain, mereka kembali menuruni anak tangga escalator hingga kembali ke lantai dasar. Mereka duduk berdua. Istirahat setelah lelah bersenang-senang. Kembali menjadi anak-anak.
  Mereka dudul berdua, membicarakan banyak hal, tertawa entah karena apa. Saat itulah, Raffi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Suka gak?" Tanya Raffi pada Iren.
"Ohhh, jadi ini buat aku?"

"Iya. Buat siapa lg? Buat hadiah ulang tahun kamu sayang, maaf ya aku gabisa ngasih surprise atau sejenisnya. Aku ga bisa romantis yang." Raffi berkata dengan jujur.

"Aku kira kamu beli ini buat siapa" kata Iren sedih. "Udah lama aku pengen nanya, tapi takut."

"Makanya jangan suka berpikir negatif dong sayang. Pakai gih. Pasti imut kalo pake itu"

"Yaudah deh" Iren melepas jaket yang dipakainya, dan memasang jaket yang diberikan oleh Raffi.

"Coba deh pake hoodie-nya"

Iren pun mengikuti saran kekasihnya dan kemudian tersenyum manis kepada Raffi.

"Kan imut banget jadinya. Aku seneng deh." Puji Raffi yang membuat Iren tertawa senang melihat ekspresi Raffi yang terlihat sangat gemes sama muka imut Iren.

"Makasih ya sayang." Kata Iren setelah berhenti tertawa.

"Iya, sama-sama sayang. Padahal masih ada lagi, tp paketnya telat nyampe ke kos aku. Entar aku kirim ke rumah kamu aja ya."

Lusa, Raffi akan kembali lagi ke kota yang cukup jauh. Luar pulau. Tempat mereka menimba ilmu bersama, sebelumnya. Kali ini Raffi kembali tanpa Iren di sana. Tapi Iren akan selalu menunggu Raffi kembali ke kota mereka dan menemuinya.

"Semoga mereka selalu dikuatkan hatinya untuk selalu saling menjaga, saling mempertahankan. Serta saling memperjuangkan."

Ini hanya sebuah kisah cinta. Entah bahagia atau harus bermuram durja. Diambil dari kisah nyata dan dibumbui sekedarnya.

Nama tokoh disamarkan. Mohon maaf atas kesamaan nama tokoh yang tak disengaja.

Mohon maaf atas ketidakjelasan alur cerita. Mohon dimaklumi.

Mohon maaf karna sepertinya sangat banyak typo 😅

Happy reading 😉

Selasa, 09 Desember 2014

Untuk yang tersayang

Sayang, sungguh...
Setelah dua minggu terakhir diminta untuk memutuskan agar meninggalkan studiku di sini atau tetap bertahan di sini, aku memutuskan untuk mengikuti saran ibuku..
Dan setelah beberapa hari, aku sudah mencoba mengikhlaskan studiku dan berjanji akan kembali kuliah di tahun depan. Aku baru sadar, sayang. Setelah betapa beratnya mengikhlaskan studiku, aku baru sadar. Aku berat meninggalkanmu. Sangat berat. Sungguh.
Aku yg dulu terbiasa hampir setiap hari bertemu denganmu, hampir saja terkejut dengan intensitas pertemuan kita setelah kita kuliah yg hanya satu kali seminggu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kita hanya bertemu sekali dalam enam bulan. Kelihatannya berat, sayang.
Tapi kucoba menguatkan hatiku sendiri. Kita akan baik-baik saja, sayang. Selama kita tetap saling menjaga komunikasi dan saling percaya, insyaAllah semuanya akan baik-baik saja, kan? InsyaAllah...
Doakan aku agar cepat sembuh sayang, supaya tahun depan aku bisa kembali melanjutkan studiku. Entah di mana, kuharap kembali ke kota ini, Yogyakarta. :')

Saat jarak memisahkan kita, kepercayaan dan komunikasi adalah cara terbaik untuk menjaga hubungan. :)