"Sepertinya aku harus pergi." Perempuan itu pamit kepada empat orang temannya yang berada di dalam kamar itu. Sebelumnya dia sudah mendapat telpon dari seseorang.
Dia pun keluar dari kamar itu dan segera mengambil dan mengendarai motornya. Keluar dari rumah salah satu temannya tersebut.
"Ke mana dia?" benak perempuan tersebut--yg diketahui bernama Iren. Dia mengambil telpon genggamnya, dan mengetikkan "km di mana?"
Tak lama kemudian Iren melihat seseorang di belakangnya. "Hai, nunggu di mana? Kok aku ga liat?" ucap Iren membuka percakapan. "Di depan kok, kamu aja ga liat, langsung jalan gitu." Jawab sang pria yang kemudian diketahui bernama Raffi. "Oh ya?" Iren sedikit kaget dan merasa bersalah.
"Oh iya, kok kamu naik motor sendiri? Katanya mau bareng aja?"
"Hah? Tadi malem kamu ga ngeiyain sih, aku pikir aku gamau, makanya aku bawa motor sendiri."
"Duh, yaudah deh."
"Hehe, maaf ya."
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah pasar modern di kota tersebut. Sesampainya di pasar modern tersebut, mereka langsung naik ke lantai 2. Perlu diketahui, pasar modern ini sebelumnya dinamakan plaza. Entah sejak kapan berubah menjadi pasar modern. Pasar modern tersebut memiliki 3 lantai dengan lantai pertama dan kedua berisi toko-toko atau tempat belanja berbagai macam baju, boneka, makanan, sampai jam tangan. Sedangkan lantai ketiga berisi mainan-mainan sejenis "mini timezone", mungkin.
"Katanya mau beli snapback? Jadi?" Iren bertanya pada Raffi.
"Iya sih. Tapi kita main dulu aja ya?"
"Beli dulu aja gpp, kan cuma lantai dua? Main belakangan aja, gpp kok."
"Yaudah deh"
Raffi pun membeli snapback yang dia mau. Snapback berwarna hitam dan bertuliskan nama dari salah satu band yang disukainya pun menjadi miliknya.
"Nah udah dibelikan? Sekarang kita main yuk" Raffi berkata dengan penuh perhatian terhadap kekasihnya. Oh, iya benar. Mereka adalah sepasang kekasih yang sebelumnya bersama-sama kuliah di satu kota yang sama. Namun, dua bulan terakhir, mereka terpaksa menjalani Long Distance Relationship karena Iren sudah dua bulan sakit-sakitan dan harus pulang.
"Ayuk." Kata Iren antusias dilengkapi matanya yang berbinar. Mata itu, ciri khas Iren yang benar-benar membuat Raffi jatuh cinta.
"Kok sepi?" Kata Iren sedikit kecewa begitu sampai di lantai tiga. Mata berbinarnya memudar. Ini bukan weekend ataupum hari libur, jadi wajar kalau tempat bermain jadi sesepi ini.
"Yaudah gpp, main aja yuk. Aku beli koinnya dulu ya" Raffi berujar penuh kasih sayang.
Raffi kembali menemui Iren dengan membawa cukup banyak koin sebagai syarat permainan.
"Mau main apa, yang?" Tanya Raffi.
"Basket yuk. Biar bisa berdua." Kata Iren berseru, kembali antusias.
Melempar bola. Masuk. Gagal. Menyenangkan sekali melihat mereka tertawa bahagia. Terlebih bagi Raffi, sungguh menyenangkan melihat kekasihnya yang dua bulan lalu terbaring lemah, hari ini bisa kembali tertawa bahagia bersamanya.
Raffi sudah pulang ke kota mereka sejak satu minggu yang lalu. Namun karena disibukkan oleh acara resepsi perkawinan kakaknya, dari persiapan hingga acara selesai Raffi masih disibukkan oleh berbagai kegiatan yang memaksanya menahan rindu lebih lama untuk menemui kekasihnya.
Pun begitu juga dengan Iren. Harapannya bisa berlama-lama bersama sang kekasih nyatanya harus dikubur dalam-dalam. Iren dipaksa mengerti akan kesibukkan Raffi. Toh Iren tak bisa memaksakan kehendaknya sendiri.
Jadilah hari itu, saat Raffi menyempatkan waktunya untuk mengajak Iren yang sebenarnya baru beberapa minggu terakhir bisa dikatakan "cukup sehat" Iren benar-benar ingin menhghabiskan waktu bersama Raffi dan menjadikan waktu itu sebagai "quality time" bersama Raffi. Apalagi sejak diputuskan bahwa Iren akan istirahat untuk kuliah tahun ini, itu berarti mereka akan kembali menjalani Long Distance Relationship. Mereka benar-benar ingin memanfaatkan waktu yang ada.
Puas bermain basket, mereka kembali mendatangi berbagai permainan.
"Mau apa lagi?" Tanya Raffi.
"Terserah" jawab Iren masih dengan matanya yang berbinar.
"Mau nyoba main gitar? Atau drum?"
"Aku kan belum bisa." jawab Iren dengan muka sok sedih yang justru membuat Raffi tersenyum dan mengacak-acak jilbab pink yang dipakai Iren. "Kamu aja yang main." Lanjutn Iren.
"Yaudah yuk."
Raffi pun mengambil posisi layaknya seorang drummer. Padahal biasanya Raffi lebih sering megang gitar ataupun keyboard. Lagu dimainkan, Raffi mulai bermain, sedangkan Iren setia berdiri di sampingnya memberinya semangat.
Berbagai permainan mereka coba. Puas bermain, mereka kembali menuruni anak tangga escalator hingga kembali ke lantai dasar. Mereka duduk berdua. Istirahat setelah lelah bersenang-senang. Kembali menjadi anak-anak.
Mereka dudul berdua, membicarakan banyak hal, tertawa entah karena apa. Saat itulah, Raffi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Suka gak?" Tanya Raffi pada Iren.
"Ohhh, jadi ini buat aku?"
"Iya. Buat siapa lg? Buat hadiah ulang tahun kamu sayang, maaf ya aku gabisa ngasih surprise atau sejenisnya. Aku ga bisa romantis yang." Raffi berkata dengan jujur.
"Aku kira kamu beli ini buat siapa" kata Iren sedih. "Udah lama aku pengen nanya, tapi takut."
"Makanya jangan suka berpikir negatif dong sayang. Pakai gih. Pasti imut kalo pake itu"
"Yaudah deh" Iren melepas jaket yang dipakainya, dan memasang jaket yang diberikan oleh Raffi.
"Coba deh pake hoodie-nya"
Iren pun mengikuti saran kekasihnya dan kemudian tersenyum manis kepada Raffi.
"Kan imut banget jadinya. Aku seneng deh." Puji Raffi yang membuat Iren tertawa senang melihat ekspresi Raffi yang terlihat sangat gemes sama muka imut Iren.
"Makasih ya sayang." Kata Iren setelah berhenti tertawa.
"Iya, sama-sama sayang. Padahal masih ada lagi, tp paketnya telat nyampe ke kos aku. Entar aku kirim ke rumah kamu aja ya."
Lusa, Raffi akan kembali lagi ke kota yang cukup jauh. Luar pulau. Tempat mereka menimba ilmu bersama, sebelumnya. Kali ini Raffi kembali tanpa Iren di sana. Tapi Iren akan selalu menunggu Raffi kembali ke kota mereka dan menemuinya.
"Semoga mereka selalu dikuatkan hatinya untuk selalu saling menjaga, saling mempertahankan. Serta saling memperjuangkan."
Ini hanya sebuah kisah cinta. Entah bahagia atau harus bermuram durja. Diambil dari kisah nyata dan dibumbui sekedarnya.
Nama tokoh disamarkan. Mohon maaf atas kesamaan nama tokoh yang tak disengaja.
Mohon maaf atas ketidakjelasan alur cerita. Mohon dimaklumi.
Mohon maaf karna sepertinya sangat banyak typo 😅
Happy reading 😉

Tidak ada komentar:
Posting Komentar