Nah, ini cerpen yang mau gua share, selamat membaca :))
Aga vs Aga
Pagi itu, suara adzan sambung menyambung ditemani ayam yang
berkokok bersahutan dan embun pagi yang membasahi dedaunan. Riri terbangun dari
tidurnya dan langsung membuka jendela kamarnya, kemudian menikmati sejuknya
udara.
“Riri” panggil ibunya sambil mengetuk pintu kamarnya. Riri
tersentak dan kemudian menjawab “iya, ma.” Riri segera keluar dari kamarnya dan
menuju kamar mandi, kemudian menunaikan kewajibannya, shalat Shubuh. Seusai
shalat, Riri kembali ke kamarnya untuk merapikan tempat tidurnya dan
mempersiapkan keperluannya untuk menghadapi UN hari ini.
Riri keluar dari kamarnya dan menemui orangtua dan kakaknya, Jason,
yang sudah siap dengan sarapann mereka. “Sini, Ri. Sarapan dulu” ajak kakaknya.
“iya kak” jawabnya dan langsung duduk di sebelah kakaknya.
“hari ini kamu UN kan? Gimana dek? Udah siap?”
“iya. Do’a-in Riri ya kakakku yang ganteeengg…” jawabnya dengan
nada yang dilebih-lebihkan.
Jason ber-“hehe” ria dan kemudian menjawab “iya adikku sayangg…”
dengan wajah ceria.
Riri sudah siap dengan soal Bahasa Indonesia yang akan diterimanya
hari ini.selain karena Riri adalah siswi terbaik di SMAN 8 Jakarta yang
merupakan salah satu sekolah favorit di Jakarta, Riri juga sudah berusaha
sangat keras dalam belajar, terutama saat mengikuti pelajaran tambahan yang
dilaksanakan sekolahnya.
Riri berangkat ke sekolahnya dngan perasaan yang sedikit nervous,
namun tetap optimis. Riri juga sudah meminta restu dan do’a kepada orang tua
dan kakaknya. “bismilllahirrahmanirrahiim” ucapnya saat keluar dari pagar
rumahnya.
Bahasa Indonesia memang salah satu pelajaran tersulit menurut Riri.
Walaupun begitu, Riri tetap memiliki nilai yang ‘wah’ di pelajaran tersebut.
Waktu terus berjalan, seakan-akan tak lelah terus berjalan melewati
detik, menit, jam, serta hari. Hari ini adalah hari terakhir UN. Riri berhasil
melewati hari-hai itu. Setelah ini, Riri akan pergi ke rumah neneknya di
Bandung. Refreshing.
Saat di Bandung, Riri mendapat sms dari Rangga, orang yang
membuatnya risih karena selalu mengajaknya ngobol saat Try Out beberapa bulan
yang lalu. Riri tak mau ambil pusing, ia hanya menjawab apa yang ditanyakn
Rangga padanya.
Riri kembali ke Jakarta. Sesekali Riri pergi ke Sekolahnya. Entah
untuk menemui beberapa Guru karena ada kepentingan atau hanya untuk sekedar
bertemu dengan teman-temannya. Rangga juga sering mengajaknya mengobrol saat
bertemu dengannya di sekolah.
Suatu kali, Rangga mengajak Riri untuk mengobrol di taman sekolah.
Awalnya, Riri tidak mau. Tetapi, Rangga tetap membujuknya. Dan akhirnya,
Riri-pun menyerah.
Rangga memulai obrolan dengan bertanya tentang kabarnya. Sekedar
basa-basi. Mereka terlihat mudah sekali akrab. Saat itulah pertama kalinya Riri
menyadari bahwa Rangga adalah teman mengobrol yang asyik. Akan tetapi, Rangga
mengingatkan Riri pada seseorang, Angga. Mereka berdua punya panggilan yang
sama, yaitu Aga.
⌂⌂⌂
Angga adalah mantan pacar Riri sewaktu SMP. Mereka pacaran sejak
kelas IX, hubungan mereka berakhir saat mereka duduk di kelas XI karena
hubungan mereka terbongkar dan Riri tidak mendapatkan izin berpacaran dari
orang tuanya. Dengan terpaksa, Riri harus memutuskan hubungannya dengan Angga,
tetapi mereka berjanji untuk tetap berteman. Riri dan Angga memang beda
sekolah, karena Angga lebih memilih sekolah di SMK 13 setelah lulus SMP yang
sama dengan Riri. Oleh karena itu, mereka sangat jarang bertemu.
Setelah terbongkarnya hubunga mereka, handphone Riri disita orang
tuanya dan Riri tidak bisa berhubungan dengan Angga lagi. Saat handphone Riri
dikembalikan pun, nomer Angga sudah tidak ada di daftar kontak handphone-nya.
Nomer yang dipakai saat handphone-nya disita pun sudah tidak bisa dipakai.
Sejak saat itulah, Riri dan Angga lost contact.
⌂⌂⌂
“Ternyata
Rangga tidak seperti yang kubayangkan” ucapnya dalam hati. Rangga yang ada
dipikiran Riri adalah cowok nyebelin, cerewet, sok kenal, dan belagu. Riri
salah, Rangga yang ada di hadapannya kini adalah pribadi yang menyenangkan,
walaupun kesan cerewet masih melekat. Bahkan, sejak Rangga mengajak Riri
mengobrol siang itu, Rangga tak henti-hentinya menelipkan lelucon di sela-sela
obrolan mereka yang membuat Riri tak henti-hentinya tertawa.
Riri menyerah
dan mengangkat kedua tangannya, kemudian berkata “udahlah ngelawaknya, Ga.
Capek ketawa mulu, perut gua sakit ini!” Rangga mulai memasang wajah seriusnya
dan bertanya, “kamu sudah capek ketawa?”\
Mendengar
kalimat yang diucapkan Rangga, Riri memutar otak dan bertanya-tanya pada
dirinya sendiri. ‘kamu?’ sejak kapan
mereka menggunakan kata itu? Bukannya sebelumnya mereka masih menggunakan
panggilan biasa? “kamu sudah capek ketawa?” tanya Rangga lagi dan membuyarkan
lamunan Riri. “hah? Iya” jawabnya. Rangga berkata “ya udah. Aku mulai ngomong
serius aja ya?” Riri tak mengerti apa yang dimaksud oleh Rangga. Namun, Riri
hanya mengangguk.
“sebenarnya, ini yang pengen aku omongin dari tadi.”
“ngomongin apa?”
“sebenarnya..sebenarnya..sebenarnya aku sayang kamu, Ri” ungkapnya
tersendat-sendat dengan wajah serius dan mata yang tulus.
Jantung Riri
seperti berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak dan napasnya mulai tercekat.
“serius? Secepat ini? Bukankah kita baru saling kenal?” jawabnya dengan nada
tersentak.
“Kita memang baru kenal, Ri. Bahkan, munkin kamu baru tahu ada
siswa bernama ‘Rangga Hakim Kusuma’ di sekolah ini. Tapu, aku sudah
mengetahuimu sejak kelas X. Sejak saat itu, aku menyukaimu. Tapi aku tak pernah
punya kesempatan seperti ini. Aku hanya bisa mengamati gerak-gerikmu, tingkah
lakumu, sifatmu, sikapmu, dan segala hal tentangmu. Aku bersyukur, aku punya
kesempatan ini. Bisa banyak bicara denganmu.” jelasnya.
Riri hanya terdiam membisu dan menunduk.
“Tapi sebenarnya aku sedih. Kenapa kita punya kesempatan ini di
akhir SMA kita? Aku sudah mendengar tantangmu yang akan melanjutkan kuliah ke
University of Oxford, artinya kita akan terpisah jauh. Ya kan?” tambahnya.
Riri hanya mengangguk.
“Aku langsung o the point aja ya Ri. Mau gak kamu jadi pacarku? Eh,
masa aku mau jadiin kamu pacar? Bahasanya ga enak banget ya? Hahah. Emang kamu
benda bisa dijadiin sesuatu? Hahha. Gini deh, boleh gak aku jadi pacarmu? Kalo
gini aku yang jadi benda yah? Tapi gakpapa deh, jadi benda demi kamu.
Sebenarnya, aku sudah tahu kamu belum dapat izin pacaran dari orang tuamu.
Sampai sekarang?”
Riri tak bisa
menahan senyum ketika kata-kata itu keluar dari mulut Rangga. Kemudian, Riri
menjawab, “maaf, Ga. Aku ga bisa nerima kamu. Kamu pasti sudah tahu apa
alasannya.” Riri melihat kekecawaan di wajah Rangga. Riri kembali berbicara,
“tapi kita masih bisa berteman, bahkan bersahabat. Ya kan? Mungkin itu lebih
baik. Aku juga sayang kamu.”
Wajah Rangga
yang tadinya melukiskan kekecewaan, kini mulai kembali cerah setelah mendengar
kalimat terakhir yang diucapkan Riri. Sejak saat itu, mereka terlihat lebih
akrab dari biasanya, walau hanya dalam status persahabatan.
Mereka sering
melewatkan waktu luang bersama. Sekedar jalan-jalan bersama atau makan siang berdua
di café favorit mereka.
Hari terus
berlalu, seakan-akan tak kenyang-kenyangnya memakan detik, menit, jam, serta
hari. Hubungan Riri dan Rangga semakin Akrab. Banyak hal yang Rangga ceritakan
pada Riri. Begitu juga Riri, ia sudah menceritakan banyak nhal pada Rangga,
termasuk tentang Angga.
Suatu hari,
Riri mendapat kabar tentang diadakannya reuni SMP angkatannya. Itu artinya Riri
akan bertemu dengan Angga. Acara dilaksanakan di sebuah gedung yang cukup
besar.
Benar dugaan
Riri, ia bertemu dengan Angga di acara itu. Riri mulai menyapa Angga. “Hai, Ga”
sapanya. “Hai” jawab Angga dengan nada datar. Sikap Angga pada Riri pun juga
terkesan dingin. Sepertinya Angga kecewa dengan sikapnya dulu. Maaf, ucap Riri
dalam hati.
Setelah Riri
berusaha menjelaskan tentang kejadian itu, akhirnya Angga mau mengerti. Mereka
kembali berhubungan baik. Tanpa disadari, perasaan mereka dulu mulai tumbuh.
Riri
menceritakan tentang pertemuannya dengan Angga kepada Rangga dengan wajah yang
ceria. Goresan cemburu terukir di wajah Rangga. Riri yang baru menyadari hal
itu langsung mengucapkan maaf pada Rangga.
Riri bingung
dengan perasaannya sendiri. Rangga atau Angga yang ada di hatinya sekarang ini?
Riri terjebak di antara dua Aga yang berbeda. Tak mau ambil pusing, Riri
mencoba menganggap mereka berdua sebagai sahabat terbaiknya.
Hingga
waktu keberangkatannya ke London, Riri tetap berusaha menganggap mereka berdua
sebagai sahabat terbaiknya. R-Musannadah-F

Tidak ada komentar:
Posting Komentar