Powered By Blogger
Powered By Blogger

Sabtu, 02 Juni 2012

Cerpen paksaan *haha*


Nah, ini cerpen yang mau gua share, selamat membaca :))


Aga vs Aga
Pagi itu, suara adzan sambung menyambung ditemani ayam yang berkokok bersahutan dan embun pagi yang membasahi dedaunan. Riri terbangun dari tidurnya dan langsung membuka jendela kamarnya, kemudian menikmati sejuknya udara.
“Riri” panggil ibunya sambil mengetuk pintu kamarnya. Riri tersentak dan kemudian menjawab “iya, ma.” Riri segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi, kemudian menunaikan kewajibannya, shalat Shubuh. Seusai shalat, Riri kembali ke kamarnya untuk merapikan tempat tidurnya dan mempersiapkan keperluannya untuk menghadapi UN hari ini.
Riri keluar dari kamarnya dan menemui orangtua dan kakaknya, Jason, yang sudah siap dengan sarapann mereka. “Sini, Ri. Sarapan dulu” ajak kakaknya.
“iya kak” jawabnya dan langsung duduk di sebelah kakaknya.
“hari ini kamu UN kan? Gimana dek? Udah siap?”
“iya. Do’a-in Riri ya kakakku yang ganteeengg…” jawabnya dengan nada yang dilebih-lebihkan.
Jason ber-“hehe” ria dan kemudian menjawab “iya adikku sayangg…” dengan wajah ceria.
Riri sudah siap dengan soal Bahasa Indonesia yang akan diterimanya hari ini.selain karena Riri adalah siswi terbaik di SMAN 8 Jakarta yang merupakan salah satu sekolah favorit di Jakarta, Riri juga sudah berusaha sangat keras dalam belajar, terutama saat mengikuti pelajaran tambahan yang dilaksanakan sekolahnya.
Riri berangkat ke sekolahnya dngan perasaan yang sedikit nervous, namun tetap optimis. Riri juga sudah meminta restu dan do’a kepada orang tua dan kakaknya. “bismilllahirrahmanirrahiim” ucapnya saat keluar dari pagar rumahnya.
Bahasa Indonesia memang salah satu pelajaran tersulit menurut Riri. Walaupun begitu, Riri tetap memiliki nilai yang ‘wah’ di pelajaran tersebut.
Waktu terus berjalan, seakan-akan tak lelah terus berjalan melewati detik, menit, jam, serta hari. Hari ini adalah hari terakhir UN. Riri berhasil melewati hari-hai itu. Setelah ini, Riri akan pergi ke rumah neneknya di Bandung. Refreshing.
Saat di Bandung, Riri mendapat sms dari Rangga, orang yang membuatnya risih karena selalu mengajaknya ngobol saat Try Out beberapa bulan yang lalu. Riri tak mau ambil pusing, ia hanya menjawab apa yang ditanyakn Rangga padanya.
Riri kembali ke Jakarta. Sesekali Riri pergi ke Sekolahnya. Entah untuk menemui beberapa Guru karena ada kepentingan atau hanya untuk sekedar bertemu dengan teman-temannya. Rangga juga sering mengajaknya mengobrol saat bertemu dengannya di sekolah.
Suatu kali, Rangga mengajak Riri untuk mengobrol di taman sekolah. Awalnya, Riri tidak mau. Tetapi, Rangga tetap membujuknya. Dan akhirnya, Riri-pun menyerah.
Rangga memulai obrolan dengan bertanya tentang kabarnya. Sekedar basa-basi. Mereka terlihat mudah sekali akrab. Saat itulah pertama kalinya Riri menyadari bahwa Rangga adalah teman mengobrol yang asyik. Akan tetapi, Rangga mengingatkan Riri pada seseorang, Angga. Mereka berdua punya panggilan yang sama, yaitu Aga.
                                              ⌂⌂⌂
Angga adalah mantan pacar Riri sewaktu SMP. Mereka pacaran sejak kelas IX, hubungan mereka berakhir saat mereka duduk di kelas XI karena hubungan mereka terbongkar dan Riri tidak mendapatkan izin berpacaran dari orang tuanya. Dengan terpaksa, Riri harus memutuskan hubungannya dengan Angga, tetapi mereka berjanji untuk tetap berteman. Riri dan Angga memang beda sekolah, karena Angga lebih memilih sekolah di SMK 13 setelah lulus SMP yang sama dengan Riri. Oleh karena itu, mereka sangat jarang bertemu.
Setelah terbongkarnya hubunga mereka, handphone Riri disita orang tuanya dan Riri tidak bisa berhubungan dengan Angga lagi. Saat handphone Riri dikembalikan pun, nomer Angga sudah tidak ada di daftar kontak handphone-nya. Nomer yang dipakai saat handphone-nya disita pun sudah tidak bisa dipakai. Sejak saat itulah, Riri dan Angga lost contact.
                                                          ⌂⌂⌂
“Ternyata Rangga tidak seperti yang kubayangkan” ucapnya dalam hati. Rangga yang ada dipikiran Riri adalah cowok nyebelin, cerewet, sok kenal, dan belagu. Riri salah, Rangga yang ada di hadapannya kini adalah pribadi yang menyenangkan, walaupun kesan cerewet masih melekat. Bahkan, sejak Rangga mengajak Riri mengobrol siang itu, Rangga tak henti-hentinya menelipkan lelucon di sela-sela obrolan mereka yang membuat Riri tak henti-hentinya tertawa.
Riri menyerah dan mengangkat kedua tangannya, kemudian berkata “udahlah ngelawaknya, Ga. Capek ketawa mulu, perut gua sakit ini!” Rangga mulai memasang wajah seriusnya dan bertanya, “kamu sudah capek ketawa?”\
Mendengar kalimat yang diucapkan Rangga, Riri memutar otak dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.  ‘kamu?’ sejak kapan mereka menggunakan kata itu? Bukannya sebelumnya mereka masih menggunakan panggilan biasa? “kamu sudah capek ketawa?” tanya Rangga lagi dan membuyarkan lamunan Riri. “hah? Iya” jawabnya. Rangga berkata “ya udah. Aku mulai ngomong serius aja ya?” Riri tak mengerti apa yang dimaksud oleh Rangga. Namun, Riri hanya mengangguk.
“sebenarnya, ini yang pengen aku omongin dari tadi.”
“ngomongin apa?”
“sebenarnya..sebenarnya..sebenarnya aku sayang kamu, Ri” ungkapnya tersendat-sendat dengan wajah serius dan mata yang tulus.
Jantung Riri seperti berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak dan napasnya mulai tercekat. “serius? Secepat ini? Bukankah kita baru saling kenal?” jawabnya dengan nada tersentak.
“Kita memang baru kenal, Ri. Bahkan, munkin kamu baru tahu ada siswa bernama ‘Rangga Hakim Kusuma’ di sekolah ini. Tapu, aku sudah mengetahuimu sejak kelas X. Sejak saat itu, aku menyukaimu. Tapi aku tak pernah punya kesempatan seperti ini. Aku hanya bisa mengamati gerak-gerikmu, tingkah lakumu, sifatmu, sikapmu, dan segala hal tentangmu. Aku bersyukur, aku punya kesempatan ini. Bisa banyak bicara denganmu.” jelasnya.
Riri hanya terdiam membisu dan menunduk.
“Tapi sebenarnya aku sedih. Kenapa kita punya kesempatan ini di akhir SMA kita? Aku sudah mendengar tantangmu yang akan melanjutkan kuliah ke University of Oxford, artinya kita akan terpisah jauh. Ya kan?” tambahnya.
Riri hanya mengangguk.
“Aku langsung o the point aja ya Ri. Mau gak kamu jadi pacarku? Eh, masa aku mau jadiin kamu pacar? Bahasanya ga enak banget ya? Hahah. Emang kamu benda bisa dijadiin sesuatu? Hahha. Gini deh, boleh gak aku jadi pacarmu? Kalo gini aku yang jadi benda yah? Tapi gakpapa deh, jadi benda demi kamu. Sebenarnya, aku sudah tahu kamu belum dapat izin pacaran dari orang tuamu. Sampai sekarang?”
Riri tak bisa menahan senyum ketika kata-kata itu keluar dari mulut Rangga. Kemudian, Riri menjawab, “maaf, Ga. Aku ga bisa nerima kamu. Kamu pasti sudah tahu apa alasannya.” Riri melihat kekecawaan di wajah Rangga. Riri kembali berbicara, “tapi kita masih bisa berteman, bahkan bersahabat. Ya kan? Mungkin itu lebih baik. Aku juga sayang kamu.”
Wajah Rangga yang tadinya melukiskan kekecewaan, kini mulai kembali cerah setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Riri. Sejak saat itu, mereka terlihat lebih akrab dari biasanya, walau hanya dalam status persahabatan.
Mereka sering melewatkan waktu luang bersama. Sekedar jalan-jalan bersama atau makan siang berdua di café favorit mereka.
Hari terus berlalu, seakan-akan tak kenyang-kenyangnya memakan detik, menit, jam, serta hari. Hubungan Riri dan Rangga semakin Akrab. Banyak hal yang Rangga ceritakan pada Riri. Begitu juga Riri, ia sudah menceritakan banyak nhal pada Rangga, termasuk tentang Angga.
Suatu hari, Riri mendapat kabar tentang diadakannya reuni SMP angkatannya. Itu artinya Riri akan bertemu dengan Angga. Acara dilaksanakan di sebuah gedung yang cukup besar.
Benar dugaan Riri, ia bertemu dengan Angga di acara itu. Riri mulai menyapa Angga. “Hai, Ga” sapanya. “Hai” jawab Angga dengan nada datar. Sikap Angga pada Riri pun juga terkesan dingin. Sepertinya Angga kecewa dengan sikapnya dulu. Maaf, ucap Riri dalam hati.
Setelah Riri berusaha menjelaskan tentang kejadian itu, akhirnya Angga mau mengerti. Mereka kembali berhubungan baik. Tanpa disadari, perasaan mereka dulu mulai tumbuh.
Riri menceritakan tentang pertemuannya dengan Angga kepada Rangga dengan wajah yang ceria. Goresan cemburu terukir di wajah Rangga. Riri yang baru menyadari hal itu langsung mengucapkan maaf pada Rangga.
Riri bingung dengan perasaannya sendiri. Rangga atau Angga yang ada di hatinya sekarang ini? Riri terjebak di antara dua Aga yang berbeda. Tak mau ambil pusing, Riri mencoba menganggap mereka berdua sebagai sahabat terbaiknya.
Hingga waktu keberangkatannya ke London, Riri tetap berusaha menganggap mereka berdua sebagai sahabat terbaiknya. 


R-Musannadah-F

Tidak ada komentar:

Posting Komentar