Aku
memang tidak terlalu suka mengeluarkan isi hatiku di dunia nyata. Faktanya, aku
lebih suka melakukannya di dunia maya. Aku lebih leluasa mengungkapkan apa yang
kuinginkan tanpa merasa malu atau apapun.
Sekarang,
aku akan menceritakan masalahku yang terjadi akhir-akhir ini. Masalah dengan
teman sekelas. Sepele. Tapi lumayan rumit. Entahlah. Tapi aku tidak suka dengan
masalah ini. Aku hanya ingin meluapkan isi hatiku.
Kau
tahu? Sebagai cewek, kau pasti senang punya sahabat seorang cowok. Mereka berbeda
dengan sahabat cewek. Mereka lebih tidak banyak omong saat kau bercerita banyak
pada mereka. Mereka tidak cerewet. Itu poin pentingnya.
Semuanya
berawal dari jatuh cintanya seorang sahabatku kepada teman sekelasku. Ya, kami
bertiga sekelas. Aku memang akrab dengan si cowok. Aku mengenalnya, dia
mengenalku. Saling cerita. Saling bantu. Dia partner belajar yang baik.
Suatu
pagi, aku bingung melihatnya tiba-tiba berdiri di belakang kelas dengan muka
sok cueknya. Aku menyelidik. Masih tak menemukan sesuatu. Sampai dia keluar
kelas, dan seorang cewek masuk. Saat si cewek mulai duduk dan seperti terkejut setelah
menemukan sebatang coklat tanpa keterangan ditemukan di laci mejanya. Saat itu
juga, aku menyimpulkan sesuatu.
Wow.
Jujur saja, aku tak menyangka. Aku juga benar-benar tak tau ceritanya. Aku tipe
orang yang slalu ingin tau. Dan aku memutuskan menanyakan hal itu kepada si
cowok. Aku bertanya, dan dia mengaku. Dia minta maaf karna tak menceritakan
padaku sebelumnya, katanya masih malu, ragu, atau apalah. Dan aku mulai
mendengarkan ceritanya, ternyata si cewek juga menyukainya…
Sampai
pada suatu waktu, teman sebangku si cowok lagi ke luar provinsi, mengikuti
sebuah kegiatan. Aku dan si cowok duduk berdekatan, hanya dipisahkan jalan
untuk siswa-siswi berlalu-lalang. Pelajaran sejarah. Sebelumnya kami sudah
merancang tidak akan belajar sejarah dan akan bercerita panjang lebar. Tapi semuanya
hancur, saat guru sejarah menegur dan seisi kelas mengejek kami.
Semuanya
biasa-biasa saja, menurutku. Aku juga tidak terlalu terganggu dengan ejekan
teman-teman. Aku hanya menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa. Sampai pada
kesadaranku. Sore itu, aku mengikuti ekskul, sama seperti si cowok. Pulangnya,
aku sempat ngobrol dengannya. Sampai sesuatu terucap dari mulutnya, aku masih
belum sadar. Namun, saat di jalan, menuju pulang. Tiba-tiba saja kesadaran itu
datang. Aku merasakan perubahannya.
Si
cewek. Ya, sepertinya dia cemburu. Aku mencoba mengingat-ingat gelagatnya
setelah pelajaran sejarah. Aku menemukan kecemburuan itu. Aku mencoba mengirim
sms ke cewek itu, minta maaf, bilang jangan salah paham. Tak ada balasan. Aku mencoba bertanya pada si
cowok. Ternyata, smsnya juga ga di bales. Aku mulai emosi. Kenapa dengan ejekan
sekecil itu bisa menimbulkan masalah seperti ini??
Aku
mencoba mengirim sms ke cewek itu lagi. Kali ini beda, sms panjang lebar,
penjelasan. Dan akhirnya dibales dengan satu kata persetujuan. Sedikit lega. Tapi
masih meninggalkan emosi. Semuanya baik-baik saja, kecuali aku. Aku tipe orang
yang susah beradaptasi dengan hal seperti ini. Merasa tidak enak dan
sebagainya. Aku memutuskan pindah duduk, menjauh dari si cowok. Okelah. Tidak terlalu
buruk, hanya merasakan aku tidak terlalu banyak omong hari itu.
Sekitar
satu minggu, aku mendengar kabar dari si cowok. Mereka jadian. Ya, aku ikut
senang. Walaupun sebelumnya, aku sudah mengatakan pada si cowok, aku tak suka
kalau dia harus dengan cewek itu. Tapi aku tak bisa apa-apa. Aku hanya bisa
menerima keputusan yang diambil sahabatku, apapun itu. Dan yang diambilnya
adalah, jadian. Dan aku menghargainya.
Jujur
saja, aku lebih tenang untuk kembali akrab dengan sang cowok. Mereka sudah
punya hubungan. Dan aku yakin, mereka sudah memiliki kepercayaan kuat pada
masing-masing. So? Tidak ada salahnya aku kembali kepada kebiasaan sebelumnya
tanpa harus menjauh dari si cowok~
Sempat
terpikir di benakku, “Dia sahabat terbaikku. Dia pendengar setiaku. Dia perusuh
sejatiku. Dia penghibur terbaikku. Dan tiba-tiba kau datang begitu saja,
menghancurkan semuanya.”
Sekarang,
pikiran itu kucoba untuk ku hilangkan. Aku kembali seperti biasa dengan si
cowok.
Si
cewek? Apa kabar? Mereka jadian. Tapi tak tau kenapa, setelah kejadian salah
paham itu, aku jadi malas menyapa. Untuk senyum, sepertinya tak susahJ
Ini
aku. Dengan semua sifat&sikapku.
R-Musannadah-F

Tidak ada komentar:
Posting Komentar