Powered By Blogger
Powered By Blogger

Kamis, 15 November 2012

Cerita beberapa minggu terakhir ini


Aku memang tidak terlalu suka mengeluarkan isi hatiku di dunia nyata. Faktanya, aku lebih suka melakukannya di dunia maya. Aku lebih leluasa mengungkapkan apa yang kuinginkan tanpa merasa malu atau apapun.
Sekarang, aku akan menceritakan masalahku yang terjadi akhir-akhir ini. Masalah dengan teman sekelas. Sepele. Tapi lumayan rumit. Entahlah. Tapi aku tidak suka dengan masalah ini. Aku hanya ingin meluapkan isi hatiku.
Kau tahu? Sebagai cewek, kau pasti senang punya sahabat seorang cowok. Mereka berbeda dengan sahabat cewek. Mereka lebih tidak banyak omong saat kau bercerita banyak pada mereka. Mereka tidak cerewet. Itu poin pentingnya.
Semuanya berawal dari jatuh cintanya seorang sahabatku kepada teman sekelasku. Ya, kami bertiga sekelas. Aku memang akrab dengan si cowok. Aku mengenalnya, dia mengenalku. Saling cerita. Saling bantu. Dia partner belajar yang baik.
Suatu pagi, aku bingung melihatnya tiba-tiba berdiri di belakang kelas dengan muka sok cueknya. Aku menyelidik. Masih tak menemukan sesuatu. Sampai dia keluar kelas, dan seorang cewek masuk. Saat si cewek mulai duduk dan seperti terkejut setelah menemukan sebatang coklat tanpa keterangan ditemukan di laci mejanya. Saat itu juga, aku menyimpulkan sesuatu.
Wow. Jujur saja, aku tak menyangka. Aku juga benar-benar tak tau ceritanya. Aku tipe orang yang slalu ingin tau. Dan aku memutuskan menanyakan hal itu kepada si cowok. Aku bertanya, dan dia mengaku. Dia minta maaf karna tak menceritakan padaku sebelumnya, katanya masih malu, ragu, atau apalah. Dan aku mulai mendengarkan ceritanya, ternyata si cewek juga menyukainya…
Sampai pada suatu waktu, teman sebangku si cowok lagi ke luar provinsi, mengikuti sebuah kegiatan. Aku dan si cowok duduk berdekatan, hanya dipisahkan jalan untuk siswa-siswi berlalu-lalang. Pelajaran sejarah. Sebelumnya kami sudah merancang tidak akan belajar sejarah dan akan bercerita panjang lebar. Tapi semuanya hancur, saat guru sejarah menegur dan seisi kelas mengejek kami.
Semuanya biasa-biasa saja, menurutku. Aku juga tidak terlalu terganggu dengan ejekan teman-teman. Aku hanya menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa. Sampai pada kesadaranku. Sore itu, aku mengikuti ekskul, sama seperti si cowok. Pulangnya, aku sempat ngobrol dengannya. Sampai sesuatu terucap dari mulutnya, aku masih belum sadar. Namun, saat di jalan, menuju pulang. Tiba-tiba saja kesadaran itu datang. Aku merasakan perubahannya.
Si cewek. Ya, sepertinya dia cemburu. Aku mencoba mengingat-ingat gelagatnya setelah pelajaran sejarah. Aku menemukan kecemburuan itu. Aku mencoba mengirim sms ke cewek itu, minta maaf, bilang jangan salah paham.  Tak ada balasan. Aku mencoba bertanya pada si cowok. Ternyata, smsnya juga ga di bales. Aku mulai emosi. Kenapa dengan ejekan sekecil itu bisa menimbulkan masalah seperti ini??
Aku mencoba mengirim sms ke cewek itu lagi. Kali ini beda, sms panjang lebar, penjelasan. Dan akhirnya dibales dengan satu kata persetujuan. Sedikit lega. Tapi masih meninggalkan emosi. Semuanya baik-baik saja, kecuali aku. Aku tipe orang yang susah beradaptasi dengan hal seperti ini. Merasa tidak enak dan sebagainya. Aku memutuskan pindah duduk, menjauh dari si cowok. Okelah. Tidak terlalu buruk, hanya merasakan aku tidak terlalu banyak omong hari itu.
Sekitar satu minggu, aku mendengar kabar dari si cowok. Mereka jadian. Ya, aku ikut senang. Walaupun sebelumnya, aku sudah mengatakan pada si cowok, aku tak suka kalau dia harus dengan cewek itu. Tapi aku tak bisa apa-apa. Aku hanya bisa menerima keputusan yang diambil sahabatku, apapun itu. Dan yang diambilnya adalah, jadian. Dan aku menghargainya.
Jujur saja, aku lebih tenang untuk kembali akrab dengan sang cowok. Mereka sudah punya hubungan. Dan aku yakin, mereka sudah memiliki kepercayaan kuat pada masing-masing. So? Tidak ada salahnya aku kembali kepada kebiasaan sebelumnya tanpa harus menjauh dari si cowok~
Sempat terpikir di benakku, “Dia sahabat terbaikku. Dia pendengar setiaku. Dia perusuh sejatiku. Dia penghibur terbaikku. Dan tiba-tiba kau datang begitu saja, menghancurkan semuanya.”
Sekarang, pikiran itu kucoba untuk ku hilangkan. Aku kembali seperti biasa dengan si cowok.
Si cewek? Apa kabar? Mereka jadian. Tapi tak tau kenapa, setelah kejadian salah paham itu, aku jadi malas menyapa. Untuk senyum, sepertinya tak susahJ

Ini aku. Dengan semua sifat&sikapku.

R-Musannadah-F

Tidak ada komentar:

Posting Komentar